oleh

Pembangkit Listrik NUklir Solusi Kebutuhan Listrik Ramah Lingkungan

Rencana pembangunan PLTN di Indonesia telah tertuang dalam Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 dan berdasarkan UU tersebut diharapkan pada 2030 Indonesia harus sudah memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN. Disamping  itu Presiden Jokowi telah memiliki program pembangunan pembangkit listrik sebanyak 35.000 MW dengan biaya investasi diperkirakan mencapai Rp 1.100 triliun. Dari program ini 10.000 MW akan dibangun oleh PLN (35 Proyek), sedangkan sisanya 25.000 MW oleh swasta (74 Proyek) dengan sebagian besar pembangkit yang akan dibangun adalah PLTU (20.000 MW). Melihat kondisi ini sudah saatnya Indonesia mulai memikirkan untuk dapat membangun PLTN mengingat kebutuhan yang mendesak akan energi yang murah dan juga ramah lingkungan.

Untuk membangun PLTN berkapasitas besar 1.000 MW dibutuhkan waktu sedikitnya 48 bulan hanya untuk konstruksi dan bila ditambah proses tender dan pengadaan butuh waktu 3-5 tahun, atau paling lambat proses pembangunan harus dimulai pada tahun 2020, jika ingin PLTN mulai beroperasi pada tahun 2025. Biaya pembangunan PLTN saat ini telah menurun dari 2.400/KW dolar AS di awal 1990-an menjadi 1.400/KW dolar AS sekarang dan dibandingkan berbagai jenis pembangkit lain, biaya pembangunan PLTN makin kompetitif. Ditambah biaya operasionalnya (dispatching cost) yang murah, PLTN di Indonesia yang direncanakan bisa memiliki umur teknis 50 tahun itu akan ekonomis. Rusia merupakan salah satu negara yang telah menawarkan paket pengembangan nuklir menjadi pembangkit listrik mulai dari pendidikan sumber daya manusia, cara pengelolaan, perawatan hingga pengelolaan limbah yang ramah lingkungan kepada pemerintah Indonesia. Indonesia memang sedikit tertinggal dalam hal pengembangan nuklir sebagai sumber energi. Selama Ini pengembangan nuklir indonesia masih dalam tahap penelitian dan produksinya juga lebih banyak digunakan untuk hal kesehatan dan pangan. Perusahaan milik Pemerintah Rusia, Rosatom telah beberapa kali menawari kerjasama pembangunan PLTN yang dinilai lebih hemat dibandingkan menggunakan gas dan BBM dan Pembangkit Nuklir dinilai cocok untuk kebutuhan industri dengan kemampuan pembangkit hingga 4.800 mega watt. Selain itu saat ini telah ada teknologi pemanfaatan thorium untuk reaktor nuklir atau biasa disebut dengan nuklir hijau. Selain lebih aman, pemanfaatan thorium juga lebih ramah lingkungan jika dibandingkan bahan baku energi lain seperti solar atau batubara. Bahkan, thorium disebut relatif tidak menghasilkan gas buang atau emisi. Selain itu, thorium juga merupakan sumber daya alam berbiaya murah. Sebagai perbandingan, jika menggunakan batubara, biaya produksi pembangkit listrik mencapai US$ 10 sen-US$ 12 sen per Kwh. sedangkan jika menggunakan thorium biaya produksi bisa hanya sebesar US$ 3 sen per Kwh. Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan kepada Presiden Joko Widodo terkait pengembangan pembangkit energi nuklir di Indonesia terutama untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik di negara ini. Indonesia memiliki sumber daya thorium di Babel diperkirakan mencapai 170 ribu ton. Dengan perhitungan 1 ton thorium mampu memproduksi 1.000 megawatt (MW) per tahun, maka jumlah bahan baku tersebut cukup untuk mengoperasikan 170 unit pembangkit listrik selama 1.000 tahun. Namun hingga saat ini torium masih berstatus prototipe dan masih dalam kajian research and development (R&D). Masih banyak langkah yang harus dilakukan untuk bisa menjadikan thorium sebagai bahan baku PLTN di Indonesia atau memasuki tahapan komersial. Mereka yang paham cara kerja pembangkit energi nuklir mengerti bahwa di antara ekstraksi fisik uranium sampai ke pemanfaatan terdapat rantai teknologi yang sangat panjang dan luar biasa rumit. Mulai dari ekstraksi, konversi, pengayaan dan berakhir dengan fabrikasi bahan bakar, bila Indonesia memang ingin membangun PLTN sebaiknya mengacu pada hal yang sudah terbukti. Yakni, pemakaian uranium sebagai bahan baku PLTN dan Rusia dengan Rosatom siap membantu Indonesia membangun PLTN dalam memenuhi kebutuhan listrik 35.000 MW dalam kurun lima tahun kedepan. Cina yang selama ini banyak melakukan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, banyak menggunakan teknologi hasil pengembangan Rusia dan masih terus belajar teknologi nuklir dari Rusia(NZ)

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed